Lagi obrak abrik kompie, eh nemu sesuatu yang aku tulis beberapa tahun lalu. Pengen share di sini ah..
Hampir setahun berlalu sejak aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Banyak pertimbangan sebelum mantap dengan keputusan itu. Alhamdulillah suami sangat mendukung dan memberikan kebutuhan2 sekunder yang ternyata sangat menghibur dan membantu masa2 transisi. Dijaman ketika jalur untuk terkoneksi dengan jutaan manusia melalui dunia maya begitu mudah, aku memanfaatkan internet untuk menambah wawasan dan teman. Berbagai kelompok mailing list kuikuti.
Dari sekian banyak milis, ada beberapa milis untuk para ibu yang menjadi tempat bagi mereka melontarkan segala keluh kesah, masukan ataupun sekedar joke2 ringan yang segar. Tiap email yang masuk kubaca satu persatu hingga sampailah satu surat masuk yang memberitakan satu kecelakaan yang dialami salah satu anak dari ibu anggota milis itu. Mobil jemputan sang anak yang baru berusia 6 tahun, terbakar ketika sang supir hendak memperbaiki mesin yang sedang ngadat. Api menjalar begitu cepat ketika anak2 masih berada dalam mobil. Tak terbayang olehku rasa horror yang pasti anak2 tersebut rasakan. Walaupun semua anak dapat keluar dari mobill tapi ada 2 anak yang menderita luka paling parah dan di rawat di rumah sakit. Tak terperi pasti yang dirasakan para orang tua anak2 tersebut.
Akhirnya datang berita yang mengabarkan bahwa kedua anak tersebut tak dapat selamat dari musibah tersebut. Satu surat yang diposting menceritakan keadaan di rumah sakit ketika mereka menjenguk ke sana setelah mendengar kabar duka. Sang ibu sudah tak dapat berbicara lagi. Mungkin ia tak menyangka akan mendapat musibah yang begitu mendadak dan cepat. Dalam hitungan hari anak kesayangannya telah pergi selamanya, mungkin baru beberapa malam lalu mereka merencanakan kemana akan pergi liburan bulan Juni nanti. Mungkin baru kemarin sang anak mengusulkan kegiatan yang paling ingin ia lakukan. Mungkin baru semalam rasanya sang anak mengutarakan tempat yang paling ingin ia kunjungi. Tak dinyana ia ternyata harus pergi ke tempat sangat jauh. Tak terasa air mataku menetes seiring kubaca baris demi baris surat tsb.
Mungkin kesedihan yang kurasakan hanya sebagian kecil rasa sakit yang dirasa sang ibu. Ketika anaknya yang masih kecil harus menderita sebelum pergi. Ketika ia harus menatap mata sang anak yang harus menahan rasa sakit disekujur tubuhnya. Seketika melayang pikiranku mengingat anak2ku. Tak henti2nya aku bersyukur pada Allah yang sampai detik ini memberikan kesehatan dan keselamatan pada mereka. Kupanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa untuk selalu mengiringi mereka dengan keselamatan dan kesehatan. Tak kusesali keputusanku untuk meninggalkan pekerjaanku karena sebagai gantinya aku dapat sering bersama2 anakku, melihat tingkahh polah mereka yang lucu dan polos. Melihat senyum mereka, mendapat ciuman di pipi setiap saat mereka ingin mencium pipiku dengan sayang. Semoga aku dapat terus mengiringi mereka hingga mereka besar dan memiliki peri2 kecil mereka sendiri.
YR, March 31st 2008




